Posted by: Yosni Herin | March 13, 2010

PSSI Harus Diurus Ahlinya

PSSI Harus Diurus Ahlinya

Mengenang kisah perjuangan tim nasional sepak bola Indonesia di masa lalu era ‘70 hingga ‘80-an, pencinta sepak bola Indonesia pasti memberikan acungan jempol dengan performa mereka. Diperkuat para legenda saat itu, tim Merah Putih mengaum hingga menjadi tim menakutkan di Asia.

Dari Asian Games hingga Pra Olimpiade, timnas begitu berjaya. Di masa itu, pasukan Garuda bahkan meladeni klub-klub besar dari Eropa, mulai dari Manchester United, Benfica, hingga Ajax Amsterdam, tanpa gentar.

Namun itu semua tinggal kenangan. Timnas saat ini jauh berbeda dengan kekuatan era itu. Setahun ini saja, para penggemar fanatis sepak bola Indonesia bahkan dibuat terhenyak dengan torehan buruk prestasi timnas. Dari junior hingga senior, para penonton terus-terusan dibuat kecewa. Kecewa karena rentetan kegagalan terus menghiasi.

Setelah timnas U-19 tersingkir di Pra Piala Asia (PPA), seniornya juga mengikuti gagal di PPA 2011. Tak cukup sampai di situ, U-23 yang diharapkan meraih emas di SEA Games, akhir Desember lalu, bahkan lebih memalukan lagi. Secara menyakitkan, mereka takluk dari Laos, negara miskin yang selama ini tak pernah mengalahkan Indonesia. Akibatnya, timnas U-23 harus pulang lebih awal dari kontingen Indonesia lainnya.

Melihat kondisi ini, mantan pemain timnas Sutan Harhara begitu cemas. Satu-satunya jalan, menurutnya, hanya dengan perubahan semata. PSSI harus dibongkar hingga akar-akarnya agar pembinaan dan sepak bola Indonesia membaik.

“Organisasi yang sehat itu penting. Tak hanya pemain yang harus bagus, tapi organisasi juga. Jangan sampai hanya jadi regulator tanpa membuat perubahan signifikan,” tegas Sutan kepada Koran Jakarta, Jumat (12/3).

Perubahan organisasi berarti juga harus diikuti dengan munculnya figur pemimpin baru yang dapat membuat konsep-konsep lebih bagus dibandingkan rezim lama. Selain itu, harus memiliki terobosan-terobosan baru agar timnas dapat kembali bersaing.

Inilah yang tidak dimiliki Ketua Umum Nurdin Halid yang saat ini memimpin bersama para pengurus lainnya. Bahkan, wakil pengurus suporter Persebaya Surabaya, Bonek Merah Putih (BMP) Pambudi Wiratama mengibaratkan PSSI saat ini seperti layaknya “kolam kotor”, sehingga apa pun yang masuk ke dalamnya, seperti pemain yang cemerlang di klub, akan hancur.

“Bayangkan saja di dunia ini, hanya PSSI yang memiliki Ketua Umum seorang narapidana (2006-2008). Di negara lain, itu tidak ada. Padahal, statuta FIFA jelas-jelas melarang,” tutur Pambudi.

Pengurus PSSI saat ini juga dianggap tak memiliki iktikad baik. Seharusnya, sebagai organisasi olah raga, niat para pengurus lebih karena ingin memajukan prestasi dan bukan karena mencari uang semata. “Saya harap, jika ada pergantian para pengurus PSSI tidak mencari hidup di sana. Pikirkan prestasi, bukan cari duit,” tegas Pambudi.

Untuk menanggulangi masalah ini, PSSI seharusnya diserahkan pada ahlinya. Orang-orang berkualitas yang memiliki kemampuan untuk dapat memberikan kemajuan dunia sepak bola.

The Jakmania yang diwakili Ketua Harian Larico Rangga Mone bahkan berani menyebut Sutiyoso menjadi figur yang tepat sebagai Ketua PSSI. “Bang Yos pernah memimpin Jakarta dan berhasil, begitu juga saat ia memimpin PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia), mungkin dia yang tepat. Bagaimana pun PSSI harus diserahkan pada ahlinya,” ucap Rico. (tya marenka/S-1)


Posted by: Yosni Herin | March 13, 2010

Liverpool Siapkan Pembalasan

Liverpool Siapkan Pembalasan

LYON – Rentetan kekalahan kembali diterima Liverpool. Bertandang ke markas Lille pada laga pertama babak 16 besar Liga Eropa di Stadium Nord Lille Métropole, Jumat (12/3) dini hari WIB, “The Reds” kalah 0-1.

Liverpool harus pulang dengan kekalahan akibat gol semata wayang Lille yang diciptakan gelandang asal Belgia, Eden Hazard, pada menit ke-84. Kekalahan ini menjadi yang kedua kalinya dalam sepekan terakhir, setelah sebelumnya, Fernando Torres dan kawan-kawan juga takluk atas Wigan Athletic dengan skor 0-1 di Liga Primer.

Meskipun demikian, Rafael Benitez tetap optimistis bakal mampu membalikkan keadaan saat mereka giliran menjamu Lille di Anfield pekan depan. “Ada kemajuan pada pertandingan itu. Reaksi pemain sangat positif dan kami yakin segalanya akan berbeda di leg kedua.Kehilangan dua peluang itu sangat mahal. Saya yakin kami bisa melakukannya di Anfield, dan lolos ke perempat final,” tandas Benitez.

Hal senada juga dikatakan pilar lini tengah Liverpool, Javier Mascherano. Menurut pemain asal Argentina itu, timnya telah mengalami kemajuan kendati kalah dari wakil Prancis tersebut.

“Apa yang kami rasakan saat melawan Lille adalah laga yang sangat alot. Tapi, saya tetap yakin akan bisa melakukan yang terbaik saat kami bermain di kandang. Ini memang sangat berbeda,” kata Mascherano.

Pada laga kedua yang akan dimainkan di Anfield nanti, Mascherano menjanjikan permainan Liverpool akan lebih solid lagi. “Kami hanya melewati setengah jalan dalam kompetisi ini dan masih banyak harapan untuk kembali ke dalam track. Meski kami tidak menciptakan gol, tapi kami menciptakan peluang. Kami berharap bisa mendapatkan banyak peluang,” ujarnya.

Pada pertandingan lainnya, Juventus membuka langkah ke babak selanjutnya setelah menekuk Fulham 3-1 di Stadion Olimpico, Torino. Nicola Legrottaglie langsung membawa Bianconeri memimpin lewat tandukan kepalanya di menit kesembilan yang gagal diantisipasi kiper Fulham, Mark Schwarzer.

Jonathan Zebina menggandakan keunggulan pada menit ke-25 dan David Trezequet menyempurnakan kemenangan lewat sepakan kerasnya di menit ke-44. Sedangkan gol balasan Fulham diciptakan gelandang Nigeria Dickson Etuhu menit ke-36.

Sementara itu, Valencia gagal memaksimalkan partai kandangnya setelah ditahan wakil Jerman, Werder Bremen, 1-1 di Stadion Mestalla. Hasil ini tentu menjadi kerugian besar bagi “El Che” karena partai kedua bakal digelar di markas Bremen.

Pelatih Valencia, Unai Emery mengaku kecewa atas keputusan wasit Martin Atkinson yang memberikan hadiah penalti bagi Bremen sehingga pertandingan berakhir imbang 1-1. (anz/Rtr/S-1)

Posted by: Yosni Herin | March 13, 2010

Hasil dan Jadwal Pertandingan

Hasil dan Jadwal Pertandingan

Liga Eropa

Jumat (12/3) WIB

Atletico Madrid 0 vs 0 Sporting Lisbon

Hamburger SV 3 vs 1 Anderlecht

Lille 1 vs 0 Liverpool

Rubin Kazan 1 vs 1 Wolfsburg

Benfica 1 vs 1 Marseille

Juventus 3 vs 1 Fulham

Panathinaikos 1 vs 3 Standard Liege

Valencia 1 vs 1 Werder Bremen

Jadwal

Liga Inggris

Sabtu (13/3)

Tottenham H vs Blackburn R

Birmingham C vs Everton

Bolton W vs Wigan Athletic

Burnley vs Wolverhampton W.

Chelsea vs West Ham U.

Stoke C vs Aston Villa

Hull C vs Arsenal

Liga Italia

Sabtu (13/3)

Napoli vs Fiorentina

Liga Spanyol

Sabtu (13/3)

Getafe vs Mallorca

Sporting Gijon vs Athletic Bilbao

Sevilla vs Deportivo La Coruna

Liga Super Indonesia

Sabtu (13/3)

Persija vs Persiwa

PSPS vs Persipura

Persiba vs Persik

Sriwijaya FC vs Persema


Posted by: Yosni Herin | March 9, 2010

Revitalisasi Gerakan Pramuka, Pilar Pendidikan Kaum Muda

Revitalisasi Gerakan Pramuka, Pilar Pendidikan Kaum Muda

22 Agustus 2009

Oleh Frans Kolong Muda

Larantuka, Flores Pos

Revitalisasi gerakan pramuka merupakan salah satu pilar pendidikan kaum muda di tanah air. Revitalisasi gerakan pramuka yang sudah berjalan tiga tahun ini bertujuan untuk memantapkan eksistensi gerakan pramuka serta meningkatkan fungsinya. Fakta menunjukkan bahwa minat kaum muda dalam gerakan pramuka semakin meningkat.

Dan ini merupakan suatu tanda baik untuk mencapai visi dan misi gerakan pramuka, yakni mempersiapkan para pemimpin bangsa yang memiliki watak, kepribadian dan akhlak mulia pada masa depan. Ia juga mengharapkan agar semangat ini dipertahankan dan, bahkan harus terus ditingkatkan.

Bupati Simon Hayon mengatakan hal itu dalam sambutannya pada puncak peringatan HUT Pramuka ke-48 di Buini, Perkemahan Bakahara, Desa Kawela, Kecamatan Wotan Ulumado, Jumat (14/8). Bupati Simon juga mengakui, bahwa sejarah mencatat peranan besar anggota pramuka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pada masa-masa awal kebangkitan nasional, para anggota pramuka (kepanduan) mempunyai peranan besar dalam membangkitkan semangat kebangsaan. Pada sekitar tahun 1920-an para anggota pramuka berperan besar dalam menggalang semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Sedangkan pada masa-masa awal kemerdekaan, para anggota pramuka berperan besar dalam menggelorakan semangat bela negara.

“Ketiga peranan anggota pramuka ini harus lebih ditingkatkan. Untuk itu, keberhasilan revitalisasi gerakan pramuka sangat penting. Untuk memantapkan eksistensi gerakan pramuka, diperlukan rancangan RUU Gerakan Pramuka.

Namun hal ini menjadi hak prerogatif DPR. Sedangkan, untuk lebih meningkatkan fungsi gerakan pramuka, pada saat ini sedang dilakukan pembaruan sistem pendidikan kepramukaan,” katanya.

Inti pokok pemantapan eksistensi gerakan pramuka sebagaimana tercantum dalam RUU Gerakan Pramuka, demikian Bupati Simon, mencakup lima hal pokok yakni: penetapan Pancasila sebagai sumber nilai pendidikan kepramukaan, penetapan gerakan pramuka sebagai satu-satunya wadah otonom yang bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan kepramukaan, penetapan APBN /APBD sebagai bagian dan sumber dana gerakan pramuka, penetapan pertanggungjawaban kepengurusan kepada presiden RI sebagai pramuka utama, dan penetapan prinsip dasar kode kehormatan serta metode kepramukaan sebagai unsur pokok dalam sistem pendidikan kepramukaan.

Sedangkan, inti pokok peningkatan gerakan pramuka yang sedang diperbarui saat ini adalah penetapan standar untuk tiga unsur pokok sistem pendidikan kepramukaan yakni: pertama, standar keluaran yaitu kompetensi yang ingin dicapai oleh para peserta didik mulai dari tingkat siaga penggalang, penegak sampai dengan pandega.

Kedua, standar proses, yaitu pelbagai kegiatan kepramukaan yang wajib diselenggarakan oleh gugus depan (gudep) serta diikuti oleh setiap peserta didik, dan Ketiga, standar masukan, terutama aspek ketenagaan dan sarana pendidikan kepramukaan. Aspek ketenagaan mencakup pembina, instruktur dan pelatih.

Setelah standarisasi dilanjutkan dengan sertifikasi dan registrasi lisensi.Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Flotim melalui stafnya, Matheus Keban kepada Flores Pos Sabtu (15/8) melaporkan, Bumi Perkemahan Bakahari di Desa Kawela sejak Rabu-Jumat (12-14/8) diikuti 1.679 anggota pramuka dari 8 Kwartir Ranting (Kwaran).

Kegiatan yang dilakukan para anggota pramuka dalam perkemahan itu antara lain, pendalaman iman, diskusi dan ceramah yang dibawakan Forum Komunikasi Antarumat Beragama Kabupaten Flotim, Kantor Lingkungan Hidup, Saka Bhayangkara dan Polres Flotim, serta Kodim 1624 Flotim.

Kegiatan lain adalah teknik kepramukaan, penjelajahan, misa syukur penutupan, dan api unggun.Selain kegiatan pramuka di Kawela, juga kegiatan yang sama dilaksanakan di Desa Balaweling, Kecamatan Witihama yang ditutup oleh Wakil Bupati Flotim, Yoseph Lagadoni Herin.

Posted by: Yosni Herin | March 9, 2010

Perpanjangan Bandara Gewayan Rp11,3 Miliar

PERPANJANGAN BANDARA GEWAYAN TANAH RP11,3 M
Written by Rollit    Wednesday, 04 November 2009 12:33
Pemerintah pusat telah menyetujui alokasi anggaran senilai Rp11,3 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk perpanjangan landasan pacu Bandara Gewayan Tanah di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) dari 900 menjadi 1200 meter.

Kupang, 4/11 (Antara/FINROLL News) – Pemerintah pusat telah menyetujui alokasi anggaran senilai Rp11,3 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk perpanjangan landasan pacu Bandara Gewayan Tanah di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) dari 900 menjadi 1200 meter.

Dana tersebut dibagi dalam dua tahap yakni tahap pertama untuk pengerjaan pemotongan dan pengurukan tanah dengan dana sekitar Rp6,3 miliar yang dikerjakan mulai tahun 2009 ini, kata Wakil Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin, di Kupang, Rabu.

Sementara untuk pengerjaan landasan pacu dengan alokasi anggaran sekitar Rp5 miliar, akan dilakukan pada tahun 2010 mendatang dan diharapkan paling lambat Juli atau Agustus 2010 sudah bisa selesai.

Perluasan landasan pacu, kata Wabub Laga Doni, selain agar bisa didarati pesawat jenis F-50 dengan kapasitas penumpang sekitar 50 orang, juga sekaligus menjawab tuntutan manajemen PT TransNusa Air Service yang menghentikan penerbangan dari dan ke wilayah paling Timur Pulau Flores itu, karena alasan landasan pacu terlalu pendek.

Perusahan swasta yang melayani penerbangan antarpulau di NTT itu merasa rugi karena penerbangan Larantuka-Kupang tidak bisa mengangkut penumpang dan bagasi sesuai dengan kapasitas angkut pesawat akibat landasan pacu bandara tersebut terlalu pendek.

Penumpang yang bisa diangkut dari Larantuka menuju Kupang paling banyak sekitar 28 orang dari kapasitas sekitar 50 orang, padahal permintaan dari para pengguna jasa penerbangan dari daerah itu sangat tinggi.

Akibatnya, banyak sekali penumpang baik dari Kabupaten Lembata dan Larantuka, Flores Timur terpaksa harus terbang melalui Bandara Waioti di Maumere, Kabupaten Sikka, dengan mengeluarkan biaya tambahan Rp500 ribu untuk ongkos kendaraan darat sejauh sekitar 130 km dengan lama perjalanan sekitar 3,5 jam.

Wabub menambahkan, jika para pengguna jasa penerbangan harus berangkat melalui Bandara Waioti di Maumere, di Sikka, maka harus mengeluarkan biaya tambahan, selain membutuhkan waktu perjalanan yang cukup lama dan melelahkan karena jalan yang menghubungkan Flores bagian Timur menuju arah barat Pulau Flores berkelok-kelok.

Karena itu, dia berharap mulai tahun depan, jadwal penerbangan dari dan ke daerah itu baik dilakukan oleh Merpati Nusantara Airlines maupun TransNusa Air Service sudah bisa normal kembali untuk melayani masyarakat dari dan ke daerah itu. (B.017)

Posted by: Yosni Herin | March 9, 2010

Perhimpunan Wartawan Flores (PWF)

Materi Sosialisasi PWF

12 Agustus 2008

oleh Hieronimus Bokilia

(Ketua Umum PWF)

PROFILE ORGANISASI

PERHIMPUNAN WARTAWAN FLORES (PWF)

Sekretariat Jln. El Tari-Ende-Flores-NTT, HP 0852 3900 8081, 0852 3930 7555

A. Latar Belakang

Wartawan yang bertugas di wilayah Kepulauan Flores selama ini belum memiliki wadah lokal yang menghimpun dan menjdi wadah saling tukar informasi di antara para wartawan. Menyadari pentingnya sebuah organisasi yang menjadi wadah berhimpun dan tukar informasi di antara para wartawan yang bertugas di wilayah Kepulauan Flores, para wartawan kemudian berkumpul bersama membicarakan pembentukan wadah atau organisasi wartawan dimaksud.

B. Sejarah Pembentukan

  • Pembentukan Perhimpunan Wartawan Flores difasilitasi oleh Swisscontact LED-NTT dan Yayasan Pantau. Lembaga ini memberikan motifasi dan dukungan kepada para wartawan untuk menghimpunkan diri dalam satu wadah agar bisa memberikan manfaat bagi pengembangan kapasitas para wartawan dan sebagai sarana sering informasi di antara para wartawan. Swisscontact kemudian memfasilitasi pertemuan wartawan yang semula dihadiri oleh para wartawan dari empat kabupaten yakni Ngada, Ende, Sikka dan Flotim. Pertemuan digelar pada bulan September di aula PSE Ende, Jalan Anggrek.
  • Dalam pertemuan ini, hadir juga Andreas Harsono dari Yayasan Pantau. Dia banyak memberikan masukan untuk terbentuknya wadah wartawan. Namun dalam pertemuan awal ini belum berhasil membentuk organisasi wartawan. Alasan mendasar pada waktu itu adalah cakupan wilayah Flores sedangkan yang hadir hanya empat kabupaten. Selain itu perdebatan panjang juga muncul soal keterlibatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam wadah yang akan dibentuk. Kata sepakat pun belum bisa diambil pada waktu itu dan pembentukan organisasi wartawan ditunda.
  • Selanjutnya, Swisscontact kembali memfasilitasi pertemuan Tim Tujuh di Maumere pada 20 Nopember 2006 yang membicarakan rencana pertemuan raya para wartawan kedua dan menyusun acuan yang dijadikan bahan pertemuan. Tim Tujuh yang hadir dalam pertemuan antara lain, Yos Hadjon dari Lembata, Wall Abulat dari Sikka, Rosa Dalima dari Ende, Anto Manatapi dari Ngada, Boni Mardianus dari Manggarai dan Ferdi Jemaun dari Manggarai Barat. Dari Swisscontact hadir Rosalia Rabu dan Etin Suryatin. Tim Tujuh waktu itu tidak dihadiri utusan dari Flores Timur.
  • Tim Tujuh akhirnya menyepakati untuk kembali menggelar pertemuan pada 8-9 Desember 2006.
  • Menyadari pentingnya wadah sebagai wahana sering pengalaman dan peningkatan kapasitas jurnalis di Kepulauan Flores, maka pada pertemuan dua hari di aula BK3D, Jalan Melati dari tanggal 8-9 Desember, pembicaraan para wartawan mulai mengarah dan mengerucut pada kesepakatan untuk membentuk wadah wartawan Flores.
  • Maka pada tangal 8-9 Desember 2006, semua wartawan yang hadir bersepakat membentuk satu wadah yang disepakati bernama Perhimpunan Wartawan Flores disingkat PWF. Pada saat itu, forum juga secara aklamasi setelah melalui proses seleksi calon memilih Hieronimus Bokilia sebagai ketua Umum PWF untuk masa bakti 2006-2008 atau selama dua tahun.

C. Nama, Bentuk dan Lambang

  • Nama perhimpunan ini adalah Perhimpunan Wartawan Flores yang disingkat PWF dan berbentuk perhimpunan dengan lambang burung merpati membentangkan sayap, pena dan buku bertuliskan PWF dengan warna dasar biru dan dikombinasikan dengan tulisan Perhimpunan Wartawan Flores pada bagian bawah membentuk setengah lingkaran. PWF berasaskan Pancasila dan konstitusi Republik Indonesia, berpedoman pada kode etik jurnalistik Indonesia

D. Visi, Misi dan Tujuan

a. Visi

  • Visi PWF adalah terwujudnya kapasitas jurnalis yang professional dan independen sesuai dengan kode etik jurnalistik Indonesia.

b. Misi PWF

  • Meningkatkan kapasitas jurnalis di Kepulauan Flores
  • Sebagai media sharing informasi
  • Membangun solidaritas antara sesama wartawan di Kepulauan Flores
  • Memperluas akes informasi kepada masyarakat; dan
  • Meningkatkan pemberdayaan ekonomi local

c. Tujuan PWF

  • Memperjuangkan hak berpendapat, hak atas informasi, hak berkumpul dan hak berserikat bagi semua orang
  • Membela dan memperjuangkan harkat dan martabat, kesejahteraan jurnalis dan pekerja pers di Kepulauan Flores
  • Membangun kerja sama dengan masyarakat, pemerintah, LSM, lembaga donor yang memiliki komitmen untuk membangun masyarakat dan penyebarluasan informasi

Perhimpunan Wartawan Flores bersifat independen, non partisan dan berorientasi pada upaya pencerahan masyarakat dalam segala aspek.

d. Usaha-Usaha PWF

  • Menggalang solidaritas sesama jurnalis dan pekerja pers
  • Meningkatkan kemampuan profesi jurnalis
  • Membantu masyarakat menggunakan hak informasinya secara baik
  • PWF meliputi wilayah Kepulauan Flores yakni dari Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur dan Lembata dan di setiap kabupaten memiliki koordinator masing-masing.
  • Keanggotaan PWF bersifat perorangan dan terbuka bagi setiap wartawan yang bertugas di Kepulauan Flores. Kenaggotaan terdiri atas dua yakni anggota biasa dan anggota luar biasa.

e. Lingkup Organsasi dan Keanggotaan PWF

  • PWF meliputi wilayah Kepulauan Flores yakni dari Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur dan Lembata dan di setiap kabupaten memiliki koordinator masing-masing.
  • Keanggotaan PWF bersifat perorangan dan terbuka bagi setiap wartawan yang bertugas di Kepulauan Flores. Keanggotaan terdiri atas dua yakni anggota biasa dan anggota luar biasa.

E. Badan Pengurus PWF

  • Badan Pengurus PWF terdiri atas, satu orang Ketua Umum, Ketua 1 dan ketua 2, Sekretaris Umum, Sekretaris 1 dan Sekretaris 2, Bendahara Umum. Terdapat enam divisi yakni Divisi Advokasi dan Hukum, Divisi Pengembangan Kapasitas, Divisi Humas, Divisi hubungan Antar Lembaga, Divisi pengembangan Sosial Ekonomi dan Divisi Pemberdayaan perempuan.

Komposisi Pengurus PWF

  • Ketua Umum : Hieronimus L. Bokilia (Wartawan Harian Umum Flores Pos, Jln. El Tari, HP 0852 3900 8081)
  • Ketua 1 : Patris Anggo (Radio Be Smart, Kelurahan Watu, Ruteng, Manggarai, HP 0813 3945 5064)
  • Ketua 2 : Hans Hadjon (Wartawan Mingguan Buser Timur, HP 0852 3900 3304)
  • Sekretaris Umum : Bernadus Barat Daya (Radio Suara Komodo FM Labuan Bajo, Manggarai Barat, HP 0813 3945 4721)
  • Sekretaris 1 : Rosa Dalima (Reporter RRI Ende, Jln Anggrek, HP 0852 3930 7555)
  • Sekretaris 2 : Adrian Pantur (Kontributor SCTV, Jln. Adi Sucipto Maumere, Sikka, HP 0812 3839 481)
  • Bendahara Umum : Yusvina Nona (Reporter Flores Pos, Jln. El tari, HP 0852 3907 2848)

Divisi-Divisi :

  • Divisi Advokasi dan Hukum : Syarif Lamabelawa (Reporter Harian Umum Flores Pos, Jln. Raja Centis, Maumere, Sikka, HP 0813 3944 8471)
  • Divisi Pengembangan Kapasitas : Jos Hadjon (Reporter Harian Umum Flores Pos, Jln Trans Lembata, Lembata, HP 0852 3901 5474)
  • Divisi Humas : Yamin Mapawa (Mingguan Surya NTT, Jln. Pahlawan, Ende, HP 0852 3906 6447)
  • Divisi Hubungan Antar Lembaga : Anto Manatapi (Reporter RSPD Ngada, Jln. Gatot Subroto, Bajawa, Ngada, HP 0852 5301 0738)
  • Divisi Pengembangan Sosial Ekonomi : Ferdi Son (Kelurahan Waiklambu, Manggarai Barat, HP 0812 3797 270)
  • Divisi Pemberdayaan Perempuan : Ana Marlinda Boleng (Radio Surya FM Boawae, Nagekeo, HP 0813 3910 3380)

Badan Penasehat

  • Frans Anggal (Pemimpin Redaksi Harian Umum Flores Pos)
  • Yoseph Lagadoni Herin (Wakil Bupati Flores Timur)
  • Wempi Anggal (Direktur Radio Be Smart Mangarai)
  • Kepala RRI Ende
  • John Demu (Kepala RSPD Ngada)

F. Kesekretariatan

  • Untuk sekretariat, sampai saat ini PWF belum memiliki secretariat tetap dan masih berupaya mencarinya walau dalam keterbatasan. Untuk sementara Secretariat PWF menggunakan salah satu ruangan di Kantor Redaksi Harian Umum Flores Pos walau belum dimanfaatkan secara efektif karena fasilias pelengkap belum dimiliki organisasi.

G. Program Kerja dan Kegiatan

  • Program kerja PWF secara rinci belum terprogram, namun dalam pertemuan badan Pengurus PWF di Ende pada Januari 2007 lalu, telah merencanakan untuk menyelenggarakan Seminar Sehari Jurnalistik bertepatan dengan Hari Pers Nasional pada tanggal 9 September 2007 dan pelaksanaan kegiatan sukses. Tema kegiatan seminar jurnalistik “Bersama PWF Kita Wujudkan Pers yang Bermutu dan Independen”,. Pembicara yang hadir pada saat itu antara lain Yoseph Laga Doni Herin, Bujte Hello, Cirilus Bau Engo dan Joni Djoka. Sedangkan Lorens Tato tidak berkesempatan hadir.
  • Ke depan PWF akan terus berupaya menggelar kegiatan pelatihan dalam rangka meningkatkan kapasitas jurnalis di Kepulauan Flores.
  • Selain kegiatan ini, PWF juga telah menggelar workshoop tentang Penulisan Berita Ekonomi selama dua hari dari tanggal 12-13 April 2007 bertempat di Aula BEKATIGADE Ende. Pemateri tunggal dalam workshop ini adalah Pemimpin Redaksi Investor Daily Jakarta, Primus Dorimulu. Peserta workshop adalah utusan anggota PWF dari tujuh kabupaten dengan alokasi peserta tiap kabupaten dua orang.
  • PWF juga bekerja sama dengan LSM antara lain FIRD, Yayasan Tananua Flores dan organisasi lainnya di Ende turut membentuk Kelompok Solidaritas Bencana Manggarai dan ikut membantu dalam proses pencarian dana bencana alam
  • PWF juga bersama Yayasan Pantau menggelar dua kali diskusi. Diskusi pertama mengambil tema anggaran Bidang Kesehatan dengan pembicara dr. Agustinus G. Ngasu, MMR dan diskusi kedua anggaran publik yang rawan dikorupsi dengan pembicara Jhon SinlaELoe dari PIAR Kupang.
  • Dalam rangka menunjang keberlangsungan PWF, masih banyak kekurangan yang harus dibenahi dan dilengkapi. Di antaranya, sekretrariat PWF dan fasilitas penunjang lainnya serta sarana dan prasara pendukung dalam menunjang kelanjutan organisasi PWF agar tetap eksis dan bisa berbuat banyak bagi anggota PWF dalam rangka upaya peningkatan kapasitas jurnalis yang semakin bermutu dan dapat memperjuangkan kebebasan pers dan kemudahan akes informasi bagi masyarakat.
  • Kegiatan yang sudah dirancang yakni berupa pelatihan penulisan berita bagi wartawan media cetak, pelatihan penyiaran bagi wartawan media eletronik dan rencana magang ke media cetak nasional dan radio swasta yang manajemen pengelolaannya sudah baik.

H. Penutup

  • Perhimpunan Wartawan Flores belum banyak berbuat untuk masyarakat. Keberadaan PWF diharapkan bisa memberikan perubahan terutama bagi anggota PWF sendiri dalam kaitan dengan peningkatan kapasitas jurnalis sehingga para wartawan semakin ditingkatkan kemampuan jurnalisnya dan bisa menyajikan berita bermutu dengan tetap menjunjung kode etik jurnalistik Indonesia dan mengutamakan kebebasan pers yang bertanggung jawab.
Posted by: Yosni Herin | March 9, 2010

Putra Napo Tanpa Target

PUTRA NAPO TANPA TARGET

20 Agustus 2008 | Label: Pos Kupang Cup 2008 | |

2.bp.blogspot.com

PERTAMA tampil dalam event Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2007 lalu, Putra Napo, asal Mananga, Pulau Solor, Flores Timur, langsung masuk ke kelompok empat besar. Kalah dari Kristal FC di perebutan tempat ketiga, Putra Napo kini kembali tanpa target.

“Saya tidak mau membebani anak-anak dengan target. Saya hanya pesan kepada mereka agar bermain sebaik mungkin dan tunjukkan kepada sepakbola NTT bahwa anak-anak dari Solor juga bisa bermain bola dengan kualitas tinggi,” ujar manajer Putra Napo, Yoseph Lagadoni Herin, S.Sos, yang dihubungi, Selasa (19/8/2008).
Meski tanpa target, namun Wakil Bupati Flores Timur ini memiliki keyakinan kalau anak-anak asuhannya akan sanggup mempertahankan prestasi yang direbutnya tahun lalu. “Materi pemain delapan puluh persen masih sama seperti tahun lalu. Kali ini ada pemain dari Tarakan yang bergabung. Dengan materi ini didukung latihan yang sudah dilakukan, saya yakin mereka masih bisa bersaing sehingga bisa mempertahankan prestasi sama seperti tahun lalu dan kalau bisa harus lebih baik,” ujarnya.

Bergabung bersama AS Roma, Platina dan Putra Samudera di Grup D, Putra Napo dituntut untuk berhitung banyak tentang peluangnya. AS Roma adalah runner-up tahun lalu. Platina FC kini menjadi kekuatan baru sepakbola Kota Kupang yang diunggulkan untuk menjuarai turnamen ini. Sementara, Putra Samudera lolos dari play-off dengan menyingkirkan Putra Kelimutu Ende dan Gahan FC.

Artinya, Putra Napo yang bergabung bersama tim-tim juara ini harus hati-hati dalam memasang target. Spekulasi strategi boleh dilakukan, namun mereka tidak boleh gegabah, apalagi memandang enteng lawan. Penentuannya ada pada pertandingan pertama melawan AS Roma. Bila melewati anak-anak asuhan Zeth Adoe dan Buce Lioe ini, maka Yoseph Herin sudah boleh bebas memasang target. (eko)

Posted by: Yosni Herin | March 9, 2010

Kepemimpinan: Visi dan Keberanian

Kepemimpinan: Visi dan Keberanian

Oleh FRANS OBON

9 Januari 2008

Dalam diskusi bulanan Dian/Flores Pos hari Sabtu 10 Februari lalu, Wakil Bupati Flotim Yoseph Lagadoni Herin menyeringkan pengalaman pemerintah Flores Timur dalam hal merampingkan birokrasi. Gerakan perampingan ini ditantang sebagian birokrat yang terganggu kepentingannya, tetapi juga dinanti dampak dan hasilnya oleh rakyat Flotim.
Lima tahun lalu di Flores Timur, ada sebuah “eksperimen” menarik di mana untuk pertama kalinya setelah Orde Baru orang swasta diberi kesempatan atau memiliki peluang yang sama untuk menjadi pucuk pimpinan birokrasi di tingkat lokal.

Situasinya juga memungkinkan untuk itu yakni otonomi daerah diberlakukan. Pada saat itu orang menyambut pasangan Felix Fernandez-John Payong Beda sebagai duet ideal. Satunya swasta dan satunya lagi birokrat. Tetapi kongsi politik keduanya patah di tengah jalan oleh berbagai kepentingan mereka yang berbeda.
Sekarang Flotim dipimpin duet swasta-swasta. Satunya bekas politisi dari partai kecil yang telah berpengalaman sebagai politisi yang lincah, satunya lagi seorang bekas wartawan dengan pengalaman perjalanan jurnalistik yang cukup. Pasangan Simon Hayon-Yoseph Lagadoni Herin membuat satu eksperimen menarik yakni perampingan struktur birokrasi. Menurut pengakuan Yosni Herin, pemerintah bisa menghemat Rp6 miliar setahun. Gerakan perampingan ini akan ditakar dalam perjalanannya dengan seberapa besar rakyat mendapatkan keuntungannya.
Kabupaten lain belum berani melakukan eksperimen seperti ini. Kita tentu tidak ingin menduga-duga alasannya. Tetapi minimal, dari eksperimen perampingan birokrasi di Flotim itu, terdapat dua hal krusial. Pertama, visi, keberanian, dan konsistensi; dan kedua persoalan utang suksesi.
Visi, keberanian, dan konsistensi merupakan unsur konstitutif dari suatu kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak saja dikenang karena kebaikannya, karena kedermawanannya, tetapi ia juga dikenang karena pemikiran-pemikirannya, karena kecerdasannya. Visi dan keberanian ini harus pula disertai dengan konsistensi. Dia melakukan apa yang dia katakan. Sebab ikan memang busuk mulai dari kepala.
Kedua, masalah utang suksesi. Utang suksesi atau balas budi suksesi adalah persoalan krusial pasca pemilihan pemimpin. Tiap orang yang merasa berjasa menaikkan seorang pemimpin akan menagih. Masalah korupsi, kolusi, dan nepotisme berawal dari sini. Seorang bupati dan wakil bupati akan menjadi orang-orang tersandera. Biaya suksesi (political cost) maupun politik uang (money politics) telah menyandera seorang pemimpin karena dia telah menjanjikan dan memberikan konsensi-konsensi tertentu kepada penyokong dana suksesi.
Dua hal di atas akan menentukan karakter seorang pemimpin di wilayah kita ini.

Flores Pos | Bentara | 14 Februari 2007 |

Posted by: Yosni Herin | March 9, 2010

Kepemimpinan Lamaholot

KEPEMIMPINAN LAMAHOLOT

22 JULI 2008

Oleh Yoseph Lagadoni Herin

——————————————————————————————————————————–
Anak Lamaholot kelahiran Pamakayo, Solor. Sarjana FIA Undana Kupang (1993). Pernah menjadi Wartawan Pos Kupang, Harian Nusa Tenggara Denpasar, Tabloid Perspektif, Majalah Archipelago, Majalah Warta Bisnis, Majalah Media Otonomi (semuanya di Jakarta). Kini Wakil Bupati Flores Timur dan Anggota ‘Paguyuban Peduli Budaya Lamaholot’
————————————————————————————————————–

ADALAH Willem Openg yang mengawalinya. Melalui artikelnya, (PK 19/6/2008), bertajuk Bupati Flotim dalam Konstelasi Kebudayaan,Willem Openg mengajak sidang pembaca masuk ke dalam ruang Debat Publik dengan tema pokok: Pendekatan Kebudayaan dalam Pembangunan. Belum ada yang menyambut. Lalu muncul tulisan dengan nada yang nyaris sama dari Peka Wisok, Otonomi Daerah dan Pendekatan Kebudayaan (Catatan untuk Flotim), (PK 2/7/2008).

Kedua putra Lamaholot nun jauh di tanah rantau ini berpijak pada peg news yang sama dalam melahirkan tulisan. Yakni berita media massa tentang pernyataan Bupati Flotim Drs Simon Hayon yang dinilai menyesatkan dan mencederai rasa iman umat beragama, terutama Katolik sebagai agama mayoritas. Tulisan mereka mengilhami saya untuk ikut terlibat dalam ruang publik yang telah dibuka. Sebelum jauh melangkah, saya ingin menegaskan, keterlibatan saya semata sebagai putra Lamaholot yang kebetulan senang bersentuhan dengan sastra dan budaya. Sangat personal, tidak ada kaitannya dengan jabatan politik saat ini.

Keyakinan Personal Pejabat Publik

Terhadap pertanyaan yang diajukan Willem Openg dan Peka Wisok: apakah benar Bupati Simon Hayon pernah membuat pernyataan seperti itu, bagi saya semuanya telah jelas. Sebuah logika dasar dalam mata kuliah Pengantar Filsafat yang masih saya ingat mengajarkan begini, ‘ada karena ada’. Artinya, sesuatu itu ada karena sesuatu itu ada. Kalau pernyataan ini masih membingungkan, saya coba memformulasikan dalam bahasa sehari-hari: ada api maka ada asap. Atau, ada asap pasti kerena ada api! Demikianlah!

Indikasi lain dari kejelasan jawaban terhadap pertanyaan di atas adalah klarifikasi Kabag Humas dan Protokol Setda Flotim, Nor Lanjong Kornelis SH, yang tumpang-tindih dengan logika yang terkesan dipaksakan. Dalam harian Pos Kupang, 6 Juni 2008, dia membantah. Dia katakan, Bupati Flotim belum pernah membuat pernyataan resmi bahwa Yesus lahir di Wureh, Nyi Loro Kidul adalah Bunda Maria dan kuburan Firaun ada di Desa Nobo Gayak.

Tapi dalam Koran Spirit NTT edisi 23 – 29 Juni 2008 –koran mingguan yang juga diterbitkan oleh Pos Kupang, Nor Lanjong memberikan klarifikasi yang berbeda. Di media ini dia mengatakan,”Harus dibedakan antara konteks ajaran dan konteks sejarah. Apa yang disampaikan bupati selama ini dalam konteks sejarah, menggali nilai-nilai luhur yang berkembang dalam budaya Lamaholot. Jadi jangan menafsirkan dalam konteks ajaran.” Wow, luar biasa dangkal logika Kabag Humas ini!

Dalam masyarakat berbudaya Lamaholot, koda pulo kehirin lema (selanjutnya disingkat koda-kehirin) atau “sabda” adalah segalanya. Koda-kehirin ibarat kitab suci bagi umat beragama modern. Koda-kehirin adalah akar yang mengilhami dan menginspirasi bertumbuhnya manusia Lamaholot, batang yang menopang tubuh kehidupan Lewotana dan curahan sejuk yang membuat pohon kehidupan manusia Lamaholot di atas tanah leluhurnya menjadi rimbun dengan nilai-nilai yang menyejukan ikatan kebersamaan. Baik kebersamaan dalam hubungan dengan lera wulantanah ekan (langit dan bumi: Tuhan), lewo tana (kampung halaman beserta segala isinya yang kelihatan dan tidak kelihatan) serta lango uma-suku ekan (sesama saudara yang kelihatan dan tidak kelihatan).

Singkat kata, koda-kehirin adalah lentera kehidupan masyarakat Lamaholot, sebagai pusat nilai. Koda-kehirin diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi dalam bentuk temutu (tuturan). Nor Lanjong, temutu pada hakikatnya adalah ajaran. Ajaran tentang nilai-nilai universal kelamaholotan, tentang prinsip-prinsip hidup sesuai standar atadiken (manusia berbudi-adat). Ada juga ajaran tentang sejarah yakni temutu usu-asa (asal usul). Temutu usu-asa bercerita tentang sejarah, baik sejarah suku, lewotana, maupun sejarah hak ulayat dan lainnya. Lalu mengapa mesti dipisah antara ajaran dan sejarah dalam koda kehirin? Keduanya inheren, melekat, dan tidak saling meniadakan!

Nor Lanjong juga tidak bisa membedakan antara “nilai” dan “fakta”. Penjelasannya dalam Spirit NTT selanjutnya seperti ini,”Selama tiga tahun bupati berkeliling ke desa-desa senantiasa menjujung tinggi adat dan budaya Lamaholot di mana terdapat koda adat (Sabda) yang berisikan ajaran-ajaran/prinsip-prinsip hidup yang disebut koda pulo, kehirin lema. Kalau ada fakta-fakta sejarah baru, pihak arkaelog dari Larus-Prancis (yang benar, Universitas La Rochelle-Prancis, pen) akan menelitinya.”

Fakta Lamaholot itu berbeda bagai langit dan bumi dengan nilai luhur Lamaholot. Masyarakat Lamaholot mendiami wilayah Flores Timur daratan, Pulau Solor, Adonara, Lembata dan sebagian Alor-Pantar serta memiliki sekitar 19 dialek bahasa Lamaholot. Itu fakta. Fakta mengenal ruang dan identitas sehingga bisa dikenal indera-indera. Nilai-nilai luhur adalah sesuatu yang tidak bersentuhan dengan ruang. Sesuatu yang tidak kelihatan, yang hanya bisa dipelajari, dihayati dan dilaksanakan. Itulah bedanya, Nor Lanjong!

Klarifikasi yang tumpang tindih dengan logika yang amburadul seperti ini, sesungguhnya mengandaikan bahwa “sesuatu itu memang ada atau pernah terucapkan.” Di sini menjadi telanjang untuk dibaca bahwa klarifikasi hanya sebagai upaya pembelaan diri di satu sisi, dan pembohongan publik di pihak lainnya. Tampaknya, memiliki sedikit kerendahan hati untuk mengaku khilaf dan meminta maaf sudah menjadi barang langka bagi para pemimpin zaman ini.

Pejabat publik boleh saja bisa berdalih bahwa apa yang disampaikan merupakan pandangan dan keyakinan pribadi (sebagaimana pembelaan seorang ulama Katolik). Pertanyaannya: jika bersifat personal mengapa harus disampaikan ketika sedang melaksanakan tugas-tugas sebagai pejabat publik dan dalam forum publik pula? Masihkah dikatakan masalah personal jika semuanya sudah terlanjur tumpah-ruah ke dalam ruang dan waktu publik?

Sampai pada pertanyaan ini, saya teringat pesan bijak dari negeri Tiongkok. Adalah Baiyun, seorang guru Zen yang berpesan kepada umat Yang Wuwei. “Jika mengucapkan kata-kata, engkau harus selalu mempertimbangkan akibatnya. Jika engkau melaksanakannya, engkau harus mempertimbangkan cakupannya…. Para leluhur berbicara dengan kata-kata yang standar, dan tindakan mereka pun dilakukan dengan cara-cara yang tepat. Sehingga mereka mampu berbicara tanpa menimbulkan masalah dan melakukan sesuatu dengan tidak mendapatkan malu.”

Kepemimpinan Lamaholot

Koda-kehirin Lamaholot menurunkan sejumlah pesan bijak tentang kepemimpinan dan tugas-tugas seorang pemimpin. Intisari ajarannya senafas dengan terminologi kepemimpinan terbaru yang digagas Linda A Hill. Yakni, “tentang bagaimana membangun hubungan emosional untuk memotivasi dan menginspirasi orang-orang.” Dalam konteks kepemimpinan Lamaholot, teori Linda A Hill tertuang dalam ungkapan: huda-adok (menyuruh dan memotivasi) ketika sang pemimpin berada di belakang, gute-gelekat (melayani) ketika berada di tengah dan nurun-noni (memberi petunjuk) ketika berada di depan.

Sebelum huda-adok, seorang pemimpin terlebih dahulu harus pupu ribu-puin ratu, pupu naan getan, puin naan gole (mengumpulkan dan mempersatukan masyarakat). Maksudnya, masyarakat jangan tercerai-berai, sebagaimana ungkapan puin taan uin to’u, gahan taan kahan ehan, atau eket taan to’u helo jin lali jawa, welak taan ehan rupan Tapo teti tonu. Dalam tugas gute-gelekat, pemimpin diharapkan bisa peheng-pegeng (mengayomi), gurun-gawak (melindungi), dan bote-baan (mengangkat harkat dan martabat) masyarakat dan lewotana. Semua tugas gute-gelekat ini tertuang dalam ungkapan: bote teti haak, tedun lali lein; prekun mala manuk ina, prama nope kolon rone (ibarat induk ayam melindungi dan membesarkan anak-anaknya).

Sedangkan tugas nurun-noni mengharapkan seorang pemimpin sebagai suri teladan. Orang Lamaholot mengharapkan pemimpinnya harus selalu benar sebagaimana ungkapan, pana ake tala raran saka matan, gawe ake tala nekin doni jaen. Pile mala uli elan, tada mala raran laen. Temodok di sama todok hala, bewalet di sama walet kurang (pilih jalan yang benar agar jangan sampai tersesat atau terantuk). Tugas nurun-noni juga dimaksudkan sebagai teladan dalam mengamalkan dan melaksanakan nilai-nilai. Karena sang pemimpin sekaligus menjadi guru untuk tutu koda pulo, marin kehirin lema (menuturkan dan mewartakan sabda).

Orang Lamaholot selalu percaya bahwa sebagai pusat nilai, koda-kehirin juga memiliki daya magis. Selain menjadi oksigen bagi nafas hidup manusia, kode-kehirin juga bisa menjadi senjata yang mematikan. Karena itu orang tua selalu punya nasihat, jaga koda-kehirin karena koda bisa leko tuberket, kirin bisa bolak mangerket (hati-hati berbicara karena kata-kata bisa membunuh). Karena itu, dalam menuturkan dan mewartakan sabda, seorang pemimpin harus tahu batasan-batasannya. Koda-kehirin yang dituturkan dan diwartakan harus sesuai dengan temutu yang diturunkan leluhur. Bukan hasil rekaan, khayalan atau halusinasi. Jika pemimpin menuturkan temutu hasil khayalan sendiri, maka bisa disebut dia sedang mengarahkan masyarakat ke dalam jalan sesat.

Barangkali keadaan seperti ini yang sedang terjadi di Flores Timur, lewotana yang agung dan mulia sebagaimana tergambar dalam sapaan lewo ihiken selaka, tana woraken belaon ini. Lagi-lagi saya teringat negeri Tiongkak. Guru Yuan pernah berpesan kepada rekannya Wuzu. Begini pesannya, “Pikiranlah yang menguasai jasmani seseorang dan menjadi dasar bagi berjuta aktivitas. Jika pikiran tidak dicerahkan dengan sempurna, maka khayalan akan muncul dengan sendirinya. Bila khayalan muncul, pengertian terhadap kebenaran menjadi tidak jernih. Benar dan salah menjadi kabur.”

Saya juga teringat seorang guru bangsa Tiongkok lainnya, Kong Hu Cu. Suatu hari ia bersama sejumlah muridnya berjalan melintas di depan istana kaisar. Murid-muridnya bertanya, “Guru , apa yang pertama kali dilakukan, seandainya terpilih menjadi kaisar?”. Sang guru menjawab, “Tentu saja meluruskan bahasa”. Para murid terdiam dan memandang sang guru dengan tatapan penuh tanya. Kong Hu Cu lantas menjabarkan, “ Jika bahasa tidak lurus, apa yang dikatakan bukanlah apa yang dimaksudkan. Jika yang dikatakan bukanlah apa yang dimaksudkan, apa yang seharusnya diperbuat, tidak diperbuat. Jika tidak diperbuat, moral dan seni akan merosot. Jika moral dan seni merosot, keadilan akan tidak jelas arahnya. Jika keadilan tidak jelas arahnya, rakyat hanya akan berdiri dalam kebingungan yang tak tertolong. Maka, tak boleh ada kesewenang-wenangan dengan apa yang dikatakan. Ini yang paling penting di atas segala-galanya.”

Hal lain yang harus diperhatikan pemimpin Lamahaolot dalam menuturkan dan mewartakan koda-kehirin adalah mengetahui mana yang boleh dan mana yang haram. Pemimpin boleh saja mewartakan sabda tentang nilai-nilai universal. Tapi haram hukumnya menyentuh ranah temutu usu-asa (tutur sejarah) dari sebuah suku/marga atau kampung. Karena hukum Lamaholot menyebutkan, temutu usu-asa hanya boleh diceritakan oleh ‘orang dalam’ suku atau pemilik kampung tersebut. Ini dimaksudkan untuk menghindari bias dalam penuturannya.

Repotnya, jika sang pemimpin merasa sok pintar dan tahu segala tentang suku dan kampung orang lain dan secara serampangan memberikan penafsiran atas makna nama dari sisi etimologis. Pemimpin seperti ini bukanlah tipe yang diidealkan dalam konteks budaya Lamaholot. Sejatinya, pemimpin Lamaholot adalah penjaga dan pengawal nilai-nilai. Yang kita saksikan sekarang, tatanan nilai-nilai kelamaholotan sedang diobok-obok oleh mereka yang mengaku pemimpin berparadigma budaya. Tapi mau bilang apa. Semua sudah terjadi. Tak terelakan! (***)

Posted by: Yosni Herin | March 9, 2010

Two killed, ship missing in Indonesia

Two killed, ship missing in Indonesia

Posted Mon Dec 31, 2007 10:00pm AEDT

Waves have swept holiday-makers off a beach in eastern Indonesia causing two people to drown and a small cargo ship was missing in high seas, an official and witnesses said.

“A huge wave came in suddenly while people were swimming at the beach. I heard people screaming for help but another policeman and I were dragged into the sea as well,” police officer Syamsul said.

He said he and his friend were saved but that the incident on Flores Island on Sunday (local time) killed two high-school students, as strong seas lashed islands across Indonesia’s east.

The local meteorology office warned of waves as high as six metres and winds of up to 50 kilometres per hour.

Joseph Lagadoni Herin, a Flores Island government official, said separately that he had received reports a small cargo ship had gone missing.

It had been expected to arrive in Flores from South Sulawesi, he said, but the number of crew on board the ship was not known.

“We are scouring the East Flores seas to search for the missing ship,” he said.

Torrential rains have inundated Indonesia’s main island of Java over the past week, killing scores of people in landslides and displacing thousands following floods.

High seas and wild weather are not unusual from December to February, when the rainy season hits a peak across the world’s fourth most populous nation.

Marooned

Indonesian relief and rescue workers have used a helicopter and rubber boats to deliver aid and rescue people marooned on Java island after massive flooding triggered by days of torrential rain.

Nearly 100 people have died and thousands left homeless after the floods and a series of landslides buried houses in Central Java and East Java last week.

Rescue operations have been slow because of a blanket of mud, cutting off roads.

A shortage of heavy equipment has also hampered rescue operations in many areas where people have been forced to use bare hands to dig out the mud.

Rescuers have used excavators and water sprays to unearth the 6-7 metres of mud that covered the land in the Tawangmangu area, worst hit by the landslides, while thousands of villagers have pitched in with basic tools such as spades and hoes.

Tabrani, deputy head of the national disaster agency, said the agency had sent 40 rubber boats to East Java and Central Java to distribute food, medicines, clothes and clean water to isolated areas.

“It was caused by heavy rain for several days until today. Environmental factors also caused it, degradation is quite high, there is no more forest,” he said.

Hundreds of people who have lost their homes have been camping in government offices. Metro TV showed footage of residents sheltering in empty train compartments in Bojonegoro, East Java, after their houses were destroyed in floods.

Landslides and floods are frequent in Indonesia, where tropical downpours can quickly soak hillsides and years of deforestation often mean there is little vegetation to hold the soil.

Indonesia’s leading environmental group, Walhi, says ecological destruction caused by deforestation, land conversion and chaotic planning contributed to the disasters.

AFP/Reuters

« Newer Posts - Older Posts »

Categories