Posted by: Yosni Herin | March 4, 2010

Perempuan Alor Di Tapak-tapak Perjalanan Pemberdayaan

Bukan Sekadar Biografi

Written by bentara

Friday, 22 December 2006

Last Updated ( Thursday, 26 February 2009 )

Di bawah judul besar buku ini ada satu kecil yang menggelitik. Kata itu berbunyi: Biografi Pelayanan. Dalam khazanah buku secara umum, kata kecil itu agak ‘kurang lazim’. Namun setelah mendalami halaman demi halaman, serta memahami bab demi bab, ketidaklaziman itu perlahan sirna. Dari A hingga Z, buku ini memang nampak sebagai biografi pelayanan, bukan sekadar biografi biasa.

Yosep Lagadoni Herin, akrab disapa Yosni, memotret sosok Dina Takalapeta Meler (istri Bupati Alor, Ans Takalapeta) bukan hanya sebagai pribadi. Dari tujuh bab, hanya satu bab yang mengurai kiprah Dina sebagai pribadi. Selebihnya fokus kepada sepak terjang Dina sebagai pelopor pemberdayaan masyarakat. Bab-bab itu lah yang menegaskan keberadaan buku ini sebagai biografi pelayanan.

Khusus tentang pemberdayaan, Yosni, benar-benar mengekploitasi pengetahuannya mengenai Dina secara rinci. Sebelum terjun ke dunia PKK, Dina lebih dulu mempelajari filosofinya (hal 112). Sebagai theolog yang punya bekal pengetahuan filsafat memadai, Dina tahu bahwa segala sesuatu harus ditelisik dari asal-usulnya.

Setelah mengetahui sejarah serta filosofi PKK, Dina mulai menghargai lembaga bernama TP PKK. Setalah adanya penghargaan terhadap lembaga yang dipimpinnya, barulah Dina mulai bekerja dalam kapasitas Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Alor. Ini lah ekploitasi pertama Yosni terhadap sosok Dina sebagai pelayan masyarakat.

Setelah itu, mantan wartawan yang kini menjabat Wakil Bupati Flores Timur tersebut menorehkan pengetahuannya mengenai Dina lebih detil lagi. Sebut, misalnya, uraian tentang kesungguhan Nyonya Bupati itu mengangkat pamor tenun Alor. Kesungguhan tanpa henti ini, akhirnya, membuahkan hasil gemilang.

Tenun Alor, yang semula hanya diminati masyarakat lokal, kini merambah belahan dunia seberang. Masyarakat negeri Sakura, Jepang, mulai mengenalnya. Tak lama kemudian, penduduk Eropa pun mulai menanyakannya. Sampai di sini, Tenun Alor semakin mendunia. Itu semua, atas kerja keras dan semangat tanpa pamrih dari seorang Dina Takalapeta.

Sukses tersebut, di kemudian hari, tidak membuatnya cepat berpuas diri. Setelah kain tenun, kini pekerjaannya mengarah ke pemberdayaan manusia. Sejak dulu dan jauh di dalam hatinya, Dina ingin meningkatkan derajat kaumnya. Jika perempuan lain mampu menaikkan derajatnya, maka perempuan Alor pun bisa.

Keyakinan Dina tidak meleset. Sebuah LSM asal Jerman,GTZ, menawarkan kerja sama pemberdayaan perempuan. Dina menerima.

Dalam tahap awal, kerja sama itu berhasil menelurkan program pemberdayaan perempuan di desa, mendukung pelembagaan di desa, dan pemerintahan desa. (hal 153).

Tahun 1999-2000, GTZ juga melibatkan perempuan dalam program PKP (padat karya pangan) berupa terasiring,menanam tanaman umur panjang, dan lain-lain. Perempuan yang bekerja mendapat jatah yang sama dengan laki-laki, yakni 3,5 kg beras per hari.

Persamaan ini, hanya salah satu bukti keberhasilan Dina mengangkat derajat perempuan Alor. Masih banyak bukti-bukti lain yang cukup menarik diikuti. (tim Bentara/Bentara Online)
DATA BUKU

Judul : Perempuan Alor Di Tapak-tapak Perjalanan Pemberdayaan

Tebal : 209 halaman

Tahun Terbit : 2005

Penerbit : Yayasan Nuba Raja Lagadoni, Jakarta

Penulis : Josep Lagadoni Herin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: