Posted by: Yosni Herin | March 4, 2010

Diam Juga Puisi

Oleh: Yosep Lagadoni Herin (Yosni Herin)

Diam Juga Puisi
(Untuk Bara Pattyradja)

Di pintu pagi kau datang mengetuk ingat
Bawakan secangkir puisi sebagai upeti
Lalu memintaku turun dari gunung dingin untuk memeluk setiap luka di lekuk hidup
Aku masih di sini. Setia membaca sepi pada sehelai dasi dan selembar jas politik, serta dinding putih yang meneriakkan keterasingan.
Dari ketinggian peraduan aku menyaksikan lambung langit terluka dan bumi yang kehilangan bahasa
Duka semesta, duka bunda: mestikah bernanah?

Kata-kata terbelah. Banyak sutera belum tersulam.
Kelopak di taman gagal mekar, ibarat telur tak pernah jadi unggas.
Semuanya tersimpan dalam rahim ilusi.
Kelak akan kuwartakan sebagai sabda untuk membalut nganga luka-luka itu.

Diamku adalah puisi. Di dalamnya aku menikmati metafora.
Menjelma dari tiada ke ada, dan dari ada kepada tiada.
Bukankah rasa tidak mesti ditulis, dan sajak tidak harus terucap?

Tapi, seperti katamu, pesta ini akan segera usai.
Saatnya pintu-pintu akan segera dibuka.
Lambung langit terluka akan memuntahkan kata-kata dan bumi tak lagi bisu.
Aku akan berlari menyongsongnya!

Larantuka, Juni 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: